Link Sukses

Banner 728x90 :

Showing posts with label Pengantar Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Pengantar Filsafat. Show all posts

Sunday, 13 September 2015

cabang-cabang filsafat secara umum. 1. Metafisika




Berdasarkan uraian tersebut, dapat dilihat beraneka ragam penggolongan filsafat atau pembagian cabang-cabang filsafat. Penggolongan itu tergantung pada sudut pandang tertentu. Dalam uraian berikut ini dibahas cabang-cabang filsafat secara umum.

Sesuai dengan pernyataan Kattsoof (2004:72-74), istilah metafisika dipergunakan di Yunani untuk menunjukkan karya-karya tertentu Aristoteles. Istilah ini berasal dai bahasa Yunani meta ta physika yang berarti hal-hal yang terdapat sesudah fisika. Aristoteles mendefinisikannya sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang ada sebagai yang ada , yang dilawankan misalnya yang ada sebagai yang digerakkan atau yang ada sebagai yang dijumlahkan. Dewasa ini, metafisika digunakan baik untuk menunjukkan cabang filsafat pada umumnya maupun acapkali untuk menunjukkan cabang filsafat yang mempelajari pertanyaan-pertanyaan terdalam. Metafisika sering kali juga dijumlahkan, khususnya bagi mereka yang ingin menolaknya, dengan salah satu bagiannya, yaitu ontologi. Metafisika dapat didefinisikan sebagai bagian pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan pertanyaan mengenai hakikat yang ada yang terdalam.
Selanjutnya Kattsoff menjelaskan, metafisika sebagai bagian pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan pertanyaan mengenai hakikat yang ada yang terdalam. Dalam arti ini, metafisika terlihat sangat erat hubungannya dengan ilmu-ilmu alam dan saling mempengaruhi terhadap ilmu-ilmu tersebut. Sejarah peradaban penuh dengan contoh-contoh yang menunjukkan adanya saling pengaruh antara teori-teori ilmu fisika dengan spekulasi yang bersifat metafisik. Metafisika bagaikan suatu prosa. Seseorang bisa jadi mengucapkan suatu prosa tanpa sadar bahwa ia mengucapkannya. Acap kali orang melihat ke atas, ke arah langit yang berbintang, dan bertanya di dalam batin atau kepada temannya, “Dari manakah asal semuanya itu? Bagaimanakah semuanya itu dimulai?” atau brangkali seseorang melihat temannya yang terhempas meninggal, dan ia gemetar seraya berkata, “Akhirnya manusia itu tiada lebih dari segumpal materi”. Di lain fihak, orang mungkin memperhatikan gerakan benda-benda angkasa yang tiada kunjung berhenti, berulangnya secara abadi musim-musim, kehidupan dan kematian, harapan dan putusnya harapan, penciptaan dan penghancuran. Atau mungkin akan bertanya, “Apakah semua ini ada maksudnya?”. Pertanyaan-pertanyaan lain akan muncul “Dari manakah saya berasal dan ke manakah saya menuju? Singkatnya pertanyaan-pertanyaan ini menyangkut persoalan kenyataan sebagai kenyataan, dan berasal dari perbedaan yang dengan cepat disadari oleh setiap orang, yaitu perbedaan yang menampak (appearance) dengan kenyataan (reality). Pada umumnya orang mengajukan dua pertanyaan yang bercorak metafisika, yaitu (1) apakah saya tidak berbeda dengan batu karang? Apakah roh saya hanya merupakan gejala materi? Dan (2) apakah yang merupakan asal mula jagad raya? Apakah yang menjadikan jagad raya, dan bukannya suatu keadaan yang berampur-aduk? Apakah hakikat ruang dan waktu itu? Pertanyaan jenis pertama termasuk ontologi, sedangkan pertanyaan jenis kedua termasuk kosmologi. Kosmologi berasal dari perkataan Yunani, cosmos dan logos, yang masing-masing berarti “alam semesta yang teratur” dan “penyelidikan tentang”. Ontologi dibicarakan dalam sab bagian khusus.
Bakker (1992:14-15) menjelaskan bahwa Aristotles menyusun filsafat pertama dengan berpangkalan dari yang berkembang (physis). Mula-mula ia sependapat dengan Plato untuk mencari kenyataan yang mengatasi dunia fisik yang empiris (ta hyper ta physika) dan yang membelakangi dunia fisik itu (ta meta ta physika), sehingga dunia itu dimungkinkan.
Kiranya kenyataan itu mendasari physis, akan tetapi terbedakan darinya pula. Namun, di fihak lain, Aristoteles juga melawan pendapat Plato bahwa hanya dunia bukan-fisik (ta paradeigman atau idea-idea) mempunyai kenyataan yang sungguh-sungguh (ontoos on), sedangkan dunia fisik hanya merupakan bayangannya. Dunia fisik sendiri mempunyai kenyataan yang sungguh-sungguh. Maka, Aristoteles ingin mencari pemahaman yang meliputi kedua-duanya sekaligus. Karena itu lama-kelamaan ta meta ta physika sudah tidak lagi dinamakan dengan ta hyper ta physika, tetapi dianggapnya lebih luas daripada itu. Maka, filsafat pertama harus meliputi baik ta hyper-physika maupun ta physika. Aristoteles mengusulkan cabang baru, yaitu ilmu tentang ta meta ta physika.
Istilah metafisika tidak menunjukkan bidang ekstensif atau objek material tertentu dalam penelitian, tatapi mengenai suatu inti yang termuat dalam setiap kenyataan, ataupun suatu unsur formal. Inti itu hanya tersebut pada taraf penelitian paling fundamental dan dengan metode tersendiri. Maka, nama metafisika menunjukkan nivo pemikiran dan merupakan refleksi filosofis mengenai kenyataan yang secara mutlak paling mendalam dan paling ultima. Semua bidang dapat diselidiki secara metafisik: manusia, sejarah, moral, hukum, dan Tuhan. Penelitian khusus demikian menghasilkan metafisika terbatas. Jika penelitin metafisik diperluas meliputi segala-galanya yang sekaligus ada, maka menjadi metafisika umum. Metafisika umum bermaksud menyatukan seluruh kenyataan dalam satu visi menyeluruh, menurut intinya yang paling mutlak.
Mudhofir (2001:236-237) menjelaskan beberapa defisnisi metafisika, sebagai berikut:

(1) Metafisika adalah usaha untuk menyajikan suatu uraian komprehensif, koheren, dan konsisten tentang kenyataan (being, the universe) sebagai suatu keseluruhan. Dalam arti ini dapat digunakan bergantian dengn synoptic, philosohy, dan cosmology.
(2)    Metafisika adalah kajian tentang ada sebagai ada (being as being) dan bukannya ada dalam bentuk ada khusus. Dalam arti ini searti dengan ontology dan dengan filsafat pertama (first philosophy).
(3)    Metafisika adalah kajian tentang sifat-sifat yang paling umum dari alam, keberadaan, perubahan, waktu, hubungan sebab akibat, ruang, substansi, identitas, keunikan, perbedaan, kesatuan, dan kesamaan.
(4)    Metafisika adalah kajian tentang kenyataan terdalam -kenyataan sebagaimana disusun dalam dirinya sendiri terpisah dari penampakannya yang ada dalam persepsi kita.
(5)    Metafisika adalah kajian tentang yang mendasari dari semua hal, sepenuhnya menentukan dirinya sendiri dan yang menjadi bergantungnya semua hal.
(6)    Metafisika adalah kajian tentang suatu realitas transenden yang menjadi sebab dari semua ekstensi. Dalam arti ini metafisika searti dengan theology.
(7)    Metafisika adalah kajian tentang sesuatu yang bersifat kerokhanian yang tidak dapat dijelaskan dengan metode-metiode penjelasan dalam ilmu-ilmu fisika.
(8)    Metafisika adalah kajian tentang sesuatu yang dengan kodratnya harus ada dan tidak dapat lain dari itu.
(9)    Metafisika adalah pemeriksaan secara kritis tentang asumsi-asumsi dasar yang dikerjakan dengan sistem pengetahuan kita dalam pengakuannya tentang apa yang nyata. Dalam arti ini metafisika searti dengan definisi yang penting tentang filsafat dan juga epistemologi.
Mudhofir menjelaskan, di antara sembilan definisi tentang metafisika, definsisi nomor
satu sampai delapan adalah definisi yang rasionalistik. Dengan proses berfikir kita dapat
sampai pada kebenaran yang fundamental, tidak dapat diingkari tentang alam (kenyataan
dunia, keberadaan, Tuhan).

Penggolongan Filsafat





Filsafat dapat digolong-golongkan menjadi:
1.                      Tentang pengetahuan
2.                      Tentang ada dan sebab-sebab yang pertama
3.    Tentang barang-barang yang ada pada khususnya, yakni dunia dan manusia
4.    Tentang kesusilaan dan nilai-nilai (Driyarkara, 2006:1019).
Golongan-golongan itu dipelajari dalam cabang-cabang/ bagian-bagian filsafat sebagai berikut:
a.    tentang pengetahuan: logika yang memuat (1) logika formal (logic) yang mempelajari asas-asas atau hukum-hukum memikir, yang harus ditaati supaya dapat berfikir dengan benar dan mencapai kebenaran. Hukum-hukum logika belaku dan penting bagi semua ilmu lainnya pula, sementara bagi filsafat merupakan alat yang harus dikuasai dulu, (2) logika material atau kritika (epistemology) yang memandang isi pengetahuan (material), bagaimana isi ini dapat dipertanggungjawabkan, mempelajari sumber-sumber dan asal ilmu pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, kemungkinan-kemungkinan dan batas pengetahuan, kebenaran dan kekeliruan, metode ilmu pengetahuan, dan lain-lain;
b.    tentang ada: metafisika atau ontology yang membahas apakah arti “ada” itu, apakah kesempurnaannya, apakah tujuan, apakah sebab dan akibat, apa yang merupakan dasar yang terdalam dalam setiap barang yang ada (hylemorfisme); jadi berbicara tentang hakikat daripada segala sesuatu
c.    tentang dunia material: kosmologi (philosophy of nature);
d.    tentang manusia: filsafat tentang manusia (philosophy of man) atau juga disebut anthropologia metafisika atau psycologia metafisika;
e.    tentang kesusilaan: etika atau filsafat moral, bahwa manusia wajib berbuat baik dan menghindarkan yang tidak baik itu menimbulkan berbgai-bagai soal: apa yang
disebut baik, apa yang bhuruk, apakah ukurannya, apa suara batin, mengapa orang terikat oleh kesusilaan, dan sebagainya. Ini dibicarakan dalam apa yang disebut etika. Di sini, termasuk pembicaraan tentang norma-norma hidup bersama atau etika soaial; dan
a.  tentang Tuhan atau theologia naturalis (natural theology), yang merupakan konsekuensi terakhir dari seluruh pandangan filsafat (Driyarkara, 2006: 1019­1021).
Ali Maksum (2008:36-37) pada umumnya filsafat dibagi ke dalam enam bidang atau cabang, yaitu:
1.       Epistemology, adalah filsafat tentang ilmu pengetahuan yang mempersoalkan sumber, asal mula, dan jangkauan serta validitas dan realiabilitas dari berbagai klaim terhadap ilmu pengetahuan.
2.       Metafisika, adalah filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, tentang hakikat yang bersifat transenden, di luar jangkauan pengalaman dan pancaindra manusia. Metafisika terdiri dari ontology, kosmologi, teologi metafisik, dan antropologi.
3.       Logika, adalah studi tentang metode berfikir dan metode penelitian ideal yang terdiri dari observasi, introspeksi, deduksi dan induksi, hipotesis dan eksperimen, analisis dan sintesis.
4.       Etika, adalah studi tentang tingkah laku yang ideal, termasuk di dalamnya aksiologi.
5.       Estetika, adalah studi tentang bentuk ideal dan keindahan. Estetika sering disebut filsafat seni.
6. Filsafat-filsafat khusus atau filsafat tentang berbagai disiplin seperti filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat agama, filsafat manusia, filsafat pendidikan, dan sebagainya.
Kattsoff (2004: 81) menggolongkan lapangan filsafat menjadi:
1.       Logika,
2.       Metodologi,
3.       Metafisika,
4.       Ontologi,
5.       Kosmologi,
6.       Epistemologi,
7.       Biologi kefilsafatan,
8.       Psikhologi kefilsafatan,
9.       Antropologi kefilsafatan,
10.   Sosiaologi kefilsafatan,
11.   Etika,
12.   Estetika,
13.   Filsafat agama.
Selanjutnya Kattsoff (2004: 70-80) menjelaskan setiap canang filsafat sebagai berikut:
1.     Logika. Logika membicarakan teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari suatu perangkat bahan tertentu. Kadang-kdang logika diberi definisi sebagai ilmu pengetahuan tentang penarikan kesimpulan. Logika dibagi dalam dua cabang utama, yaitu logika deduktif dan logika induktif. Logika deduktif berusaha menemukan aturan-aturan yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan yang bersifat keharusan dari suatu premis tertentu atau lebih. Sebagai contoh, a termasuk b, dan b termasuk dalam c, maka kita mengetahui bahwa a termasuk dalam c. Kesimpulan bahwa a termasuk dalam c karena keharusan tanpa memperhatikan apakah yang diwakili oleh a, b, dan c. Logika yang membicarakan susunan proporsi-proporsi dan penyimpulan yang sifat keharusannya berdasarkan atas susunannya, dikenal sebagai logika deduktif atau logika formal. Sementara itu, logika induktif mencoba untuk menarik kesimpulan tidak dari susunan proporsi-proporsi, melainkan dari sifat-sifat seperangkat bahan yang diamati. Logika induktif mencoba untuk bergerak dari satu perangkat fakta yang diamati secara khusus menuju kepada pernyataan yang bersifat umum mengenai semua fakta yang bercorak demikian atau dari suatu perangkat akibat tertentu menuju kepada sebab atau sebab-sebab dari akibat-akibat tersebut.
2.       Metodologi. Metodologi ialah ilmu pengetahuan tentang metode, khususnya metode ilmiah. Metodologi dapat membahas metode-metode yang lain. Semua metode untuk menemukan pengetahuan mempunyai garis-garis besar umum yang sama. Metodologi membicarakan hal-hal seperti sifat observasi, hipotesis, hukum, teori, susunan eksperimen, dan sebagainya.
3.       Metafisika. Istilah metafisika dipergunakan di Yunani untuk menunjukkan karya-karya tertentu Aristoteles. Istilah ini berasal dai bahasa Yunani meta ta physika yang berarti hal-hal yang terdapat sesudah fisika. Aristoteles mendefinisikannya sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang ada sebagai yang ada , yang dilawankan misalnya yang ada sebagai yang digerakkan atau yang ada sebagai yang dijumlahkan. Dewasa ini, metafisika digunakan baik untuk menunjukkan cabang filsafat pada umumnya maupun acapkali untuk menunjukkan cabang filsafat yang mempelajari pertanyaan-pertanyaan terdalam. Metafisika sering kali juga dijumlahkan, khususnya bagi mereka yang ingin menolaknya, dengan salah satu bagiannya, yaitu ontologi. Metafisika dapat didefinisikan sebagai bagian pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan pertanyaan mengenai hakikat yang ada yang terdalam.
4.       Ontologi dan kosmologi. Perkataan kosmologi berasal dari perkataan Yunani. Cosmos dan logos, yang masing-masing berarti alam semesta yang teratur, dan penyelidikan tentang atau lebih tepatnya asas-asas rasional dari. Perkataan ontologi berasal dari perkataan Yunani yang berarti yang ada dan logos. Ontologi membicarakan asas-asas rasional dari yang ada, sedangkan kosmologi membicarakan asas-asas rasional dari yang ada yang teratur. Ontology berusaha untuk menhetahui eseni terdalam dari yang ada, sedangkan kosmologi berusaha untuk mengetahui ketertibannya serta susunannya.
5.       Epistemologi. Epistemologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki asal-mula, susunan, metode-metode, dan sahnya pengetahuan. Pertanyaan mendasar yang dikaji ialah apakah pengetahuan itu? Bagaimanakah cara mengetahui bila mempunyai pengetahuan? Bagaimanakah cara membedakan antara pengetahuan dan pendapat? Apakah yang merupakan bentuk pengetahuan itu? Corak-corak pengetahuan apakah yang ada? Bagaimanakah cara memperoleh pengetahuan? Apakah kebenaran dan kesesatan itu? Apakah kesalahan itu? Pertanyaan ini dapat dkelompokkan dalam dua hal, kelompok pertama mengacu pada sumber pengetahuan yang dapat dinamakan pertanyaan epistemologi kefilsafatan, dan pertanyaan yang kedua berkaitan dengan masalah semantik, yaitu yang menyangkut hubungan pengetahuan dengan objek pengetahuan tersebut.
6.       Biologi kefilsafatan. Bilogi kefilsafatan membicraan persoalanj-persoalan mengenai biologi. Biologi kefilsafatan menciba untuk menanlisis pertanyaan-pertanyaan hakiki dalam biologi dengan dara yang hamper sama sebagaimana fisika kefilsafatan menganlsis pengertian-pengertian dalam fisika. Biologi kefilsafatan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai pengertian-[engertian hidup, adaftasi, teleologi, evolusi, dan penurunan sifat-sifat. Biologi kefilsafatan juga membicarakan tentang tempat hidup dalam rangka segala sesuatu, dan arti openting hidup bagi penafsiran kita tentang alam semesta tempat kita hidup.
7.       Psikhologi kefilsafatan. Di lapangan psikhologi, seorang filsuf mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang bersifat hakiki. Psikhologi dibagi menjadi psikhologi sebagai ilmu dan psikhologi kefilsafatan. Perkataan Yunani psyche dapat diterjemahkan sebagai jiwa atau sebagai nyawa.
8.       Antropologi kefilsafatan. Antropologi kefilsafatan mengemukakan pertanyaan- pertanyaan tentang manusia. Apakah hakikat terdalam manusia itu? Apa sajakah hakikat manusia? Yang manakah yang lebih mendekati kebenaran? Antropologi kefilsafatan juga membicarakan tentang makna sejarah manusia. Apakah sejarah itu dan ke manakah arah kecenderungannya?
9.       Sosiologi kefilsafatan. Dalam sosiologi kefilsafatan terkait dengan filsafat sosial dan filsafat politik. Dalam filsafat sosial dan filsafat politik, kita mengemukakan pertanyaan- pertanyaan mengenai hakikat masyarakat serta hakikat negara. Kita ingin mengetahui lembaga-lembaga yang terdapat dalam masyarakat dan menyelidiki hubungan antara manusia dan negaranya.
10.   Etika. Di dalam melakukan pilihan, kita mengacu kepada istilah-istilah seperti baik, buruk, kebajikan, kejahatan, dan sebagainya. Istilah-istilah ini merupakan predikat kesusilaan (etik), dan merupakan cabang filsafat yang bersangkutan dengan tanggapan- tanggapan mengenai tingkah laku yang betul yang mempergunakan sebutan-sebutan tersebut. Dalam etika berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah yang menyebabkan suatu perbuatan yang baik itu adalah baik? Bagaimanakah cara kita melakukan pilihan di antara hal-hal yang baik itu? dan sebagainya.
11.   Estetika. Estetika merupakan cabang filsafat yang membicarakan definisi, susunan dan peranan keindahan, khususnya di dalam seni. Seorang filsuf ingin mengetahui jawaban- jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah keindahan itu? Apakah hubungan antara yang indah dan yang benar dan yang baik? Apakah ada ukuran yang dapat dipakai untuk menanggapi suatu karya seni dalam arti yang objektif? Apakah fungsi keindahan dalam hidup kita? Apakah seni itu sendiri? Apakah seni itu hanya sekedar reproduksi dalam kodrat belaka, ataukah suatu ungkapan perasaan seeorang, ataukah suatu penglihatan ke dalam kenyataan yang terdalam?
Cabang filsafat yang terakhir menurut Kattsoff adalah filsafat agama. Berabad-abad lampau terjadi banyak pertentangan paham mengenai pertanyaan, apakah filsafat merupakan abdi ideologi, suatu telaah yang bebas serta mandiri, ataukah merupakan pelengkap bagi ideologi? Bagi seorang filsuf akan membicarakan jenis-jenis pertanyaan yang berbeda mengenai agama. Pertama-tama mungkin akan bertanya apakah agama itu? apakah yang dimaksudkan dengan istilah Tuhan? Apa bukti-bukti tentang adanya Tuhan itu sehat menurut logika? Bagaimana cara kita mengetahui Tuhan? Apakah makna eksistensi bila istilah ini dipergunakan dalam hubungannya dengan Tuhan? Kita tidak berkepentingan mengenai apa yang dipercayai oleh seseorang, tetapi sebagai filsuf mau tidak mau harus menaruh perhatian kepada makna istilah-istilah yang dipergunakan, keruntutan di antara kepercayaan-kepercayaan, dan hubungan antara kepercayaan agama dengan kepercayaan- kepercayaan yang lain.
Cabang-cabang filsafat menurut Suriasumantri (2003:32-33) mencakup tiga segi, yaitu apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketiga cabang filsafat utama ini kemudian bertambah lagi yaitu teori tentang ada: tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika, dan politik yaitu kajian mengenai organisasi social pemerintahan yang ideal.
Kelima cabang filsafat tersebut, kemudian berkembang menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian spesifik, yang mencakup:
1.                      Epistemologi (filsafat pengetahuan)
2.                      Etika (filsafat moral)
3.                      Estetika (filsafat seni)
4.                      Metafisika
5.                      Politik (filsafat pemerintahan)
6.                      Filsafat agama
7.                      Filsafat ilmu
8.                      Filsafat pendidikan
9.                      Filsafat hukum
10.                  Filsafat sejarah
11.   Filsafat matematika

Daftar Pustaka
Wibawa, Sutisno. 2013.  Filsafat Jawa. Universitas Negeri Jogjakarta.

Hakikat Filsafat



 Hasil gambar untuk hakekat filsafat
Manusia di dunia selalu dihinggapi rasa keingintahuan. Suriasumantri (2003:19-20) menyatakan pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastisan dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-dunya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.
Driyarkara (2006:999-1001) menyatakan bagaimana dari keinginan akan mengerti, akan kebenaran, timbul ilmu-ilmu pengetahuan, dan akhirnya muncullah filsafat. Filsafat itu timbul dari setiap orang, asal saja orang itu hidup sadar dan menggunakan pikirannya. Filsafat adalah bentuk ilmu pengetahuan tertentu, bahkan bentuk pengetahun manusia yang sempurna, yang merupakan perkembangan yang terakhir dari pengetahuan luar “biasa”. Filsafat dapat dipandang dalam dua segi, filsafat sebagai ilmu pengetahuan dan filsafat dalam arti yang lebih luas, yaitu usaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup, menanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu. Filsafat sebagai ilmu yang tersendiri itu tidak niscaya adanya; hal itu meminta tingkatan kebudayaan yang agak tinggi. Sebaliknya, menyangkut filsafat dalam arti yang lebih luas, dalam arti anasir-anasir filsafat dalam pikiran manusia, hal itu dapat dikatakan tentu ada, biarpun sedikit. Pada masyarakat yang tingkat kebudayaannya belum berkembang, dapat dijumpai pikiran-pikiran tentang sebab-akibat, pandangan-pandangan tentang manusia, Tuhan dan dunia, pendapat-pendapat tentang hidup, tentang perbuatan-perbuatan manusia atau etika, dan lain-lain. Filsafat adalah eksistensial sifatnya, erat hubungannya dengan hidup sehari-hari. Hidup sehari-hari memberikan bahan- bahan untuk direnungkan. Filsafat berdasarkan dan berpangkalan pada manusia yang konkrit pada diri manusia yang hidup di dunia dengan segala persoalan yang dihadapi. Dengan demikian, filsafat adalah pernyataan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap orang, maka walaupun tidak setiap orang dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat itu memang berarti bagi semua manusia.
Driyarkara (2006:1003) selanjutnya menyatakan setiap orang di dunia ini memuculkan berbagai pertanyaan, antara lain: manusia tentu mempersoalkan sangkan parannya, asal mula, dan tujuannya. Manusia akan bertanya pada diri sendiri: dari manakah manusia datang dan ke mana tujuannya, ke manakah arah hidupnya, apa artinya hidup, untuk apa manusia hidup, bagaimana setelah manusia meninggal, akan hapus sama sekali apa tidak? Manusia akan selalu bertanya demikian dan mencoba menemukan jawabannya. Dalam filsafatlah terjelma usaha-usaha manusia untuk mencari jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut.
Seiring dengan itu, Suseno (1992:17-19) menyatakan berfilsafat bergulat dengan masalah-masalah dasar manusia. Filsafat cenderung mempertanyakan apa saja secara kritis dari seluruh realitas kehidupan. Pada hakikatnya, filsafat pun membantu masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan. Filsafat dapat dipandang sebagai usaha manusia untuk menangani pertanyaan-pertanyaan fundamental tersebut secara bertanggung jawab. Pada hakikatnya filsafat membantu masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan. Jadi bantuan apa yang dapat diberikan oleh filsafat kepada hidup masyarakat? Ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia. Untuk mengatasi masalah-masalahnya, manusia membutuhkan orientasi yang sadar, ia harus mengetahui lingkungannya. Ilmu-ilmu mensistimatisasi apa yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses pencariannya. Tetapi, ilmu-ilmu pengetahuan itu semua, seperti ilmu pasti, kimia, fisiologi, sosialologi, atau ekonomi secara hakiki terbatas sifatnya. Untuk menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin semua ilmu membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Untuk meneliti bidang itu secara optimal, ilmu-ilmu khusus tidak memiliki sarana teoretis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di luar perspektif pendekatan khusus masing-masing. Ilmu-ilmu khusus tidak menggarap pertanyaan- pertanyaan yang menyangkut manusia sebagai keseluruhan, sebagai satu kesatuan yang dinamis. Padahal pertanyaan-pertanyaan ini terus menerus dikemukakan manusia dan sangat penting bagi praksis kehidupannya, seperti: apa arti tujuan hidup? apa yang menjadi kewajiban mutlak dan tanggung jawab sebagai manusia? Bagaimana manusia harus hidup agar menjadi baik sebagai manusia? Dan pertanyaan-pertanyaan tentang orientasi dasar kehidupan manusia lainnya. Di sinilah fungsi filsafat dalam usaha umat manusia untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Filsafat dapat dipandang sebagai usaha manusia untuk menangani pertanyaan-pertanyaan fundamental tersebut secara bertanggung jawab. Tanpa usaha ilmiah itu, pertanyaan-pertanyaan itu hanya akan dijawab secara spontan dan dengan demikian senantiasa ada bahaya bahwa jawaban-jawaban didistorsikan oleh selera subjektif, segala macam rasionalsiasi dan kepentingan ideologis.
Nasroen (1967:19) menyatakan falsafah itu adalah hasil dari tinjauan manusia tentang makna dirinya, makna alam, dan tujuan hidupnya dengan mempergunakan pikiran dan dibantu oleh rasa dan keyakinan yang ada dalam dirinya itu, sebagai suatu kesatuan, yang satu mempengaruhi dan membantu yang lain. Falsafah dijadikan pegangan dan pedoman dalam memberi isi hidupnya dan berusaha mencapai tujuan hidupnya.
Kattsoff (2004:3-4) menyatakan secara sederhana tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, dan menerbitkan serta mengatur semua itu di dalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Filsafat merupakan pemikiran yang sistematis. Kegiatan kefilsafatan ialah merenung, tetapi merenung bukanlah melamun, juga bukan berfikir secara kebetulan yang bersifat untung-untungan. Perenungan kefilsafatan adalah percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional yang memadai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami diri kita sendiri. Perenungan kefilsafatan dapat merupakan karya satu orang yang dikerjakannya sendiri, ketika ia dengan pikirannya berusaha keras menemukan alasan dan penjelasan dengan cara semacam bertanya kepada diri sendiri. Atau, perenungan itu dapat pula dilakukan oleh dua atau lebih dari dalam suatu percakapan ketika mereka melakukan analisis, melakukan kritik dan menghubungkan pikiran mereka secara timbal balik. Perenungan kefilsafatan dapat pula semacam percakapan yang dilakukan dengan diri sendiri atau dengan orang lain. Hal itu dapat ditunjukkan oleh aktivitas seorang filsuf yang berhubungan dengan polemik yang terkadang mempertentangkan dan membandingkan di antara alternatif-alternatif yang masing-masing berpegangan dari unsur atau segi yang penting, dan kemudian mencoba untuk mengujinya pada pengalaman, kenyataan empirik, dan akal. Ada yang berpendirian bahwa pengetahuan diperoleh hanya melalui pengalaman, dan ada yang berpendirian bahwa pengetahuan didapat hanya melalui akal. Kedua pendiriana itu diuraian secara panjang lebar sampai tercapai suatu sintesis (Kattsoff, 2004:6-7).
Driyarkara (2006:973-998) menguraikan secara panjang lebar tentang filsafat. Kata filsafat dijabarkan dari perkataan philosophia.                                                 Perkataan itu berasal dari bahasa Yunani
yang berarti “cinta akan kebijaksanaan (love of wisdom). Menurut tradisi, Pythagoras atau Sokrateslah yang pertama-tama menyebut diri Philosophus, pecinta kebijaksanaan, artinya orang yang ingin mempunyai pengetahuan yang luhur (Sophia); mengingat keluhuran pengetahuan yang dikejarnya itu, maka orang tidak mau berkata bahwa telah mempunyai, memiliki, dan menguasainya. Driyarkara selanjutnya mengatakan, antara ahli pemikir itu sendiri ada perbedaan faham tentang batasan filsafat, namun dalam perbedaan itu terdapat persamaan juga, (a) filsafat adalah suatu bentuk “mengerti”, (b) filsafat termasuk ilmu pengetahuan, dan (c) ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan yang mengatasi ilmu-ilmu lain. Mengerti ialah setiap kegiatan mana subjek-dengan cara tertentu mempersatukan diri-dengan suatu objek. Setiap bentuk mengerti berarti menjadi satu walaupun cara mempersatukan diri itu berlainan menurut derajad kesempurnaan subjek yang mengerti itu. Mengerti selalu mengandung hubungan antara subjek dan objek. Subjek yang mengerti dan objek yang dimengerti. Ilmu pengetahuan dapat dirumuskan sebagai kumpulan pengetahuan mengenai sesuatu hal tertentu (objek lapangan) yang merupakan kesatuan yang sistematis guna memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan menunjukkan dasar-dasar dari hal/ kejadian itu. Penjelasan yang ketiga bahwa filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang mengatasi ilmu-ilmu lain dapat dijelaskan bahwa filsafat tidak termasuk ruangan ilmu yang khusus, filsafat dapat dikatakan suatu ilmu yang objeknya tak terbatas, jadi mengatasi ilmu-ilmu lainnya. Hubungan filsafat dengan ilmu-ilmu lain dapat dijelaskan (a) filsafat mempunyai objek yang lebih luas, (b) filsafat hendak memberikan pengetahuan yang lebih mendalam dengan menunjukkan sebab-sebab, dan (c) filsafat memberikan sintesis kepada ilmu-ilmu pengetahuan yang khusus, mempersatukan, dan mengkoordinasikannya, dan (d) lapangan filsafat mungkin sama dengan lapangan ilmu pengetahuan, tetapi sudut pandangnya lain.
Mudhofir (2001: 277-278) juga menjelaskan “masalah filsafat memiliki ciri sangat umum. Masalah filsafat mempunyai tingkat keumuman yang tinggi dan tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus melainkan kebanyakan dengan gagasan besar”. Dalam kaitan ini, Kattsoff (2004:12-13) menyatakan bahwa filsafat berusaha menyusun suatu bagan konsepsional yang memadai untuk dunia tempat kita hidup maupun untuk diri kita sendiri. Ilmu menjelaskan tentang kenyataan empiris yang dialami, filsafat berusaha untuk memperoleh penjelasan mengenai ilmu dan yang lebih luas dari ilmu itu sendiri. Filsafat berusaha memberi penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri. Dalam sudut pandang ini, filsafat mencari kebenaran tentang segala sesuatu dan kebenaran ini harus dinyatakan dalam bentuk yang paling umum.
Sebagai suatu ilmu, filsafat mendasarkan penyelidikan berdasarkan metode yang bersifat ilmiah, artinya dengan pengamatan-pengamatan kenyataan-kenyataan, yang hasilnya digolong-golongkan, dianalisis dijadikan satu sistem. Alat yang digunakan untuk penyelidikan itu ialah akal budi, pikiran manusia sendiri. Filsafat hanya menggunakan budi murni untuk mencapai sebab-sebab yang terdalam itu, tidak berdasarkan pertolongan istimewa dari Wahyu Tuhan, melainkan berdasarkan kekuatannya sendiri, hanya dengan pertolongan panca indera dan analisis-analisis. Pada bagian akhir, Driyarkara (2006:997) menyimpulkan bahwa “filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mengenai segala sesuatu dengan memandang sebab-sebab yang terdalam, tercapai dengan budi murni”.
Pada bagian lain, Driyarkara (2006: 2012) menjelaskan berikut ini:
Filsafat menjadi suatu “ajaran hidup”. Orang mengharapkan dari filsafat dasar-dasar ilmiah yan dibutuhkannya untuk hidup. Filsafat diharapkan memberikan petunjuk- petunjuk bagaimana kita harus hidup untuk menjadi manusia yang sempurna, yang baik, yang susila, dan bahagia. Jadi, tidak hanya ilmu yang teoretis saja, melainkan yang praktis juga, artinya yang mencoba menyusun aturan-aturan yang harus dituruti agar hidup kita mendapat isi dan nilai. Dan ini sesuai dengan arti “filsafat” sebagai usaha mencari kebijaksanaan yang meliputi baik pengetahuan (insight) maupun sikap hidup yang benar-benar, yang sesuai dengan pengetahuan itu.
Mudhofir (2001:277) menjelaskan pengertian filsafat sebagai berikut:
Philosophy-Filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia. Istilah Yunani philein= “mencintai”, sedangkan philos=”teman”. Istilah Sophos = “bijaksana”, sedangkan Sophia-’kebijaksanaan”. Apabila istilah filsafat mengacu pada asal kata philen dan Sophos, maka berarti “mencintai sifat bijaksana” (bijaksana sebagai kata sifat). Apabila filsafat mengacu pada asal kata philos dan sophia, maka berati “teman kebijaksanaan” (kebijaksanaan sebagai benda).
Selanjutnya, Mudhofir (2001:277) menjelaskan tentang arti filsafat sebagai berikut:
Beberapa definisi pokok tentang filsafat adalah: (1) usaha secara spekulatif untuk menyajikan pandangan yang sistematik dan lengkap tentang semua kenyataan, (2) usaha untuk mendeskripsikan sifat dasar yang terdalam dan sesungguhnya dari kenyataan, (3) usaha untuk menentukan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan kita dalam hal sumber, sifat, validitas dan nilainya, (4) penyelidikan secara kritis terhadap praanggapan-praanggapan dan pengakuan kebenaran yang dilalukan oleh berbagai bidang pengetahuan, dan (5) ilmu yang mencoba untuk membantu kamu “melihat” apa yang kamu katakan dan mengatakan apa yang kamu lihat.
Dalam Kamus Filsafat Blackburn (2013: 659) dijelaskan makna philosophy sebagai berikut:
Philosophy dalam bahasa Yunani dimaknai sebagai mencintai pengetahuan atau kebijaksanaan. Lebih lanjut dijelaskan studi tentang ciri dan sifat paling umum dan abstrak tentang dunia dan kategori di mana kita berfikir: jiwa, materi, rasio, pembuktian, kebenaran, dan lain-lain. Dalam filsafat, dengan konsep itu kita mendekati dunia yang menjadi topik penyelidikannya. Filsafat tentang disiplin ilmu tertentu misalnya sejarah, fisika, atau hukum tidak terlalu berfokus pada jawaban atas pertanyaan historis, fisik, atau legal, selain mempelajari konsep yang menstrukturkan pemikiran tersebut dan meletakkan fondasi dan asumsi mereka. Dalam pengertian ini, filsafat muncul ketika praktik menjadi kesadaran akan diri. Garis batas antara refleksi “orde kedua” dan cara-cara disiplin ilmu “orde pertama” berpraktik tidak begitu jelas: persoalan filosofis bisa saja terjawab sendiri perkembangan disiplin ilmu yang dikajinya itu, meski perilaku disiplin ilmu sering kali digerakkan oleh refleksi

filosofisnya. Pada masa-masa yang berbeda, muncul kurang lebih optimisme tentang kemungkinan dari filsafat murni atau “pertama” yang mengambil titik pijak apriori yang darinya praktik intelektual lain dapat dinilai sebagian dan tunduk pada evaluasi dan koreksi logis. Semangat kontemporer untuk topik ini agak memusuhi kemungkinan yang seperti itu, dan lebih suka melihat refleksi filosofis sebagai kelanjutan dari praktik terbaik bidang penyelidikan intelektual apa pun.
Ali Maksum dalam buku Pengantar Filsafat (2008:21) menjelaskan bahwa filsafat
adalah proses berfikir secara radikal, sistematik, dan universal terhadap segala yang ada dan
yang mungkin ada. Dengan kata lain, berfilsafat berarti berfikir secara radikal (mendasar,
mendalam, sampai ke akar-akarnya) untuk mencapai kebenaran universal (umum, terintegral,
dan tidak khusus serta tidak parsial). Karakteristik mendasar menurut Suriasumantri
(2003:20) dia tidaklagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu dapat
disebut benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah
kriteria itu sendiri benar? Lalu benar itu sendiri apa? Seperti sebuah lingkaran maka
pertanyaan itu melingkar dan menyusur sebu8ah lingkaran, kita harus mulai dari sebuah titik,
yang awal dan sekaligus akhir.
Ali Maksum (2008:23-24) lebih lanjut menjelaskan, secara historis, semua ilmu
pengetahuan yang dikenal dewasa ini pernah menjadi bagian dati filsafat yang dianggap
sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan, dan filsafat pada waktu itu mencakup pula
segala usaha pemikiran mengenai masyarakat. Lama kelaman, seiring dengan perkembangan
peradaban manusia, pelbagai pengetahuan yang semula tergabung dalam filsafat
memisahkan diri dan mengejar tujuan masing-masing. Namun demikian, ilmu-ilmu khusus
itu tidak berarti tidak ada hubungannya sama sekali dengan induknya. Meskipun tetap ada
ciri khusus dan batas-batas yang tegas yang dimiliki setiap ilmu, filsafat berusaha
menyatupadukannya semua ilmu yang terpecah belah itu. Ada interaksi atau salinghubungan
antara ilmu dengan filsafat. Banyak persoalan filsafat yang memerlukan lanjutan dasar pada
pengetahuan ilmiah apabila pembahasannya tidak ingin dangkal dan keliru. Demikian juga, ilmu dewasa ini dapat menyediakan bagi filsafat sejumlah besar bahan-bahan yang berupa fakta-fakta yang sangat penting bagi perkembangan gagasan-gagasan filsafat yang tepat sehingga sejalan dengan pengetahuan ilmiah. Setiap ilmu khusus memiliki konsep dan asumsi bagi ilmu itu sendiri dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Terhadap ilmu-ilmu khusus, filsafat secara kritis mengalisis konsep-konsep dan memeriksa asumsi-asumsi dari ilmu-ilmu untuk memperoleh arti dan validitasnya. Sekiranya konsep-konsep ilmu itu tidak dijelaskan dan asumsi-asumsinya tidak dikuatkan, maka hasil-hasil yang dicapai ilmu tersebut tidak memiliki landasan yang kokoh. Interaksi antara filsafat dan ilmu-ilmu khusus, juga menyangkut suatu tujuan yang lebih jauh dari filsafat. Filsafat bertujuan untuk mengatur hasil-hasil dari berbagai ilmu-ilmu khusus ke dalam suatu pandangan hidup dan dunia yang terpadu, komprehensif, dan konsisten. Secara komprehensif artinya tidak ada sesuatu yang berada di luar jangkuan filsafat. Secara konsisten artinya tidak menyusun pendapat-pendapat yang saling berlawanan atau kontradiksi satu dengan lainnya. Dalam kaitan ini, Suriasumantri (2003:20) menjelaskan bahwa berfikir filsafat bersifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenai ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral, kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.
Daftar Pustaka
Wibawa, Sutisno. 2013.  Filsafat Jawa. Universitas Negeri Jogjakarta.