Link Sukses

Banner 728x90 :

Showing posts with label Hukum Adat. Show all posts
Showing posts with label Hukum Adat. Show all posts

Sunday, 13 September 2015

Budaya Jawa dan Filsafat Jawa


Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1979:193).  Kebudayaan berasal dari kata Sansekerta buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal (Koentjaraningrat, 1979:195).  Kusumohamidjojo (2009:149) memaknai kebudayaan dalam arti culture sebagai keseluruhan proses dialektik yang lahir dari kompleks perifikir, perijiwa, dan perinurani yang diwujudkan sebagai kompleks perilaku dan karya manusia dalam bentuk materialisasi (things), sebagai gagasan (ideas) yang diadaptasi, diterapkan, distandarisasikan, di-kembangkan, diteruskan melalui proses belajar, dan diadaptasikan dalam kehidupan bersama.
Kebudayaan menurut Ki Hadjar Dewantara dimaknai sebagai berikut.
Kebudayaan berarti segala apa yang berhubungan dengan budaya, sedangkan budaya berasal dari perkataan budi yang dengan singkat boleh diartikan sebagai jiwa manusia yang telah masak. Budaya atau kebudayaan tidak lain artinya dari buah budi manusia. Di dalam bahasa asing kebudayaan itu dinamakan kultur dan diartikan pula sebagai buah budi manusia. Perkataan kultur itu berasal dari cultura dari bahasa Latin, perubahan dari colere yang berarti memelihara, memajukan serta memuja-muja. Perkataan kultur itu biasanya terpakai berhubungan dengan pemeliharaan hidup tumbuh-tumbuhan, pun juga berhubung dengan pemeliharaan hidup manausia (kebudayaan Jawa).
Yang perlu diutamakan dalam segala soal kebudayaan atau kultur yaitu, bahwa di dalamnya tidak saja terkandung arti buah budi, tetapi juga arti memelihara dan memajukan. Dari sifat kodrati ke arah sifat kebudayaan. Itulah tujuan dari segala usaha kultural. Acapkali suatu bangsa itu hanya mementingkan sifat keindahan atau kemegahan yang terdapat pada suatu benda kebudayaan hingga lupa akan hubungan kebudayaan dengan masyarakat yang hidup pada suatu zaman (Majelis Luhur Tamansiswa, 2011:72).
Peursen terjemahan Dick Hartoko (1988: 10-11) memaknai kebudayaan sebagai berikut:
Kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang-orang; berlainan dengan hewan-hewan maka manusia tidak hidup begitu saja di tengah- tengah alam, melainkan selalu mengubah alam itu. Entah dia menggarap ladangnya atau membuat sebuah laboratorium untuk penyelidikan ruang angkasa, entah dia mencuci tangannya atau memikirkan suatu sistem filsafat, pokoknya hidup manusia lain dari hidup dari seekor hewan, ia selalu mengutik-utik lingkungan hidup alamiahnya, dan justu itulah yang kita namakan kebudayaan. Itulah sebabnya tidak terdapat menusia-manusia yang semata-mata terbenam dalam alam sekitarnya. Kebudayaan meliputi segala perbuatan manusia, seperti misalnya cara ia menghayati kematian dan membuat upacara-upacara untuk menyambut peristiwa itu; demikian juga mengenai kelahiran, seksualitas, cara-cara mengolah makanan, sopan santun waktu makan, pertanian, perburuan, cara ia membuat alat-alat, bala pecah, pakaian, cara-cara untuk menghiasi rumah dan badannya. Itu semua termasuk kebudayaan, seperti juga kesenian, ilmu pengetahuan dan agama. Justru dari kehidupan bangsa-bangsa alam itu menjadi kentara, bagaimana pertanian, kesuburan (baik dari ladang, maupun dari wanita), erotik, ekspresi kesenian dan mitos-mitos religius merupakan satu keseluruhan yang tak dapat dibagi-bagi menurut macam-macam kotak. Jadi, menurut pandangan ini ruang lingkup kebudayaan sangat diperluas.
Sutrisno (2008:6-8), dengan bertitik tolak dari pengertian kebudayaan menurut Peursen, menyatakan bahwa kebudayaan dewasa ini difahami sebagai kegiatan produktif dan bukan produksinya. Kebudayaan bukanlah sesuatu yang beku dan jadi, melainkan sesuatu yang senantiasa dalam proses perubahan. Manusia dewasa ini memahami dirinya sebagai suatu proses. Kehidupan sosial politik tidak dapat dianggap sekali jadi dan serba lengkap, melainkan berada dalam proses semakin memungkinkan hidup yang lebih manusiawi. Penemuan-penemuan teknologi dan ilmiah semakin memungkinkan manusia untuk hidup bebas di alam. Konsep dinamis kebudayaan dimaknai sebagai kebudayaan yang lebih dapat difahami dengan tepat. Kebudayaan dalam konteks Indonesia, kebudayaan tidak semata-mata dipandang sebagai warisan leluhur, tetapi juga sesuatu yang sedang diciptakan sekarang ini lewat pembangunan nasional. Kebudayaan bukan hanya kenyataan masa lampau yang dibanggakan, melainkan juga keharusan masa depan yang disusun dalam sebuah strategi kebudayaan.
Peursen yang diterjemahan oleh Dick Hartoko (1988:18), kebudayaan itu tergambar dalam tiga tahap, yaitu (1) tahap mitis, (2) tahap ontologis, dan (3) tahap fungsional. Tahap mitis adalah sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi-mitologi yang dinamakan bangsa-bangsa primitif. Tahap ontologis yaitu sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan yang secara bebas ingin meneliti segala hal ikhwal. Manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dulu dirasakan sebagai kepungan. Manusia mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar hakikat segala sesuatu (ontologi) dan mengenai segala sesuatu menurut perinciannya. Ontologi berkembang dalam lingkungan-lingkungan kebudayaan kuna yang sangat dipengaruhi oleh fifsafat dan pengetahuan. Tahap fungsional ialah sikap dan alam pikiran yang makin nampak dalam manusia modern, manusia tidak begitu terpesona lagi oleh lingkungannya (sikap mitis), manusia tidak lagi dengan kepala dingin ambil jarak terhadap objek penyelidikannya (sikap ontologis). Manusia ingin mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Dalam tahap fungsional nampak dengan jelas bahwa kebudayaan bukanlah semata-mata benda, melainkan sebuah kata kerja, yaitu sesuatu yang menggambarkan cara seorang manusia mengekspresikan diri dengan mencari relasi-relasi yang tepat terhadap dunia sekitarnya.
Koentjaraningrat (1979:200-201) menyatakan bahwa kebudayaan itu ada tiga wujud, yaitu pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Kedua, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud pertama adalah wujud ideal dari kebudayaan.
Sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di kepala-kepala, atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan bersangkutan itu hidup. Ide-ide dan gagasan manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu masyarakat, memberi jiwa kepada masyarakat itu. Gagasan-gagasan itu tidak berada lepas satu dari yang lain, melainkan selalu berkaitan, menjadi suatu sistem. Wujud kedua dari kebudayaan yang disebut sistem sosial mengenai tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun, selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai sebuah aktivitas dalam suatu masyarakat, sistem sosial itu bersifat konkrit, terjadi di sekeliling dalam kehidupan sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasi. Wujud ketiga dari kebudayaan yang disebut kebudayaan fisik adalah seluruh total dari hasil fisik aktivitas, perbuatan, dan karya manusia dalam masyarakat, yang sifatnya paling konkrit dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto.
Unsur-unsur kebudayaan yang ditemukan pada semua bangsa di dunia, terdapat tujuh unsur kebudayaan, yaitu: (1) bahasa, (2) sistem pengetahuan, (2) organisasi sosial, (4) sistem peralatan hidup dan teknologi, (5) sistem mata pencaharian hidup, (6) sistem religi, dan (7) kesenian (Koentjaraningrat, 1979: 218). Pengertian, wujud, dan unsur kebudayaan sebagaimana dikemukakan di atas, dapat diberlakukan juga dalam kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa didasarkan atas peta kewilayahan yang meliputi seluruh bagian tengah dan timur dari pulau Jawa, dengan pusat kebudayaan wilayah bekas kerajaaan Mataram sebelum terpecah pada tahun 1755, yaitu Yogyakarta dan Surakarta (Kodiran dalam Koentjaraningrat, 2007: 329).
Wujud dan unsur kebudayaan dapat dilihat dalam kekhasan budaya Jawa. Kamajaya (2007:84­85) menjelaskan bahwa kebudayaan Jawa adalah pancaran atau pangejawantahan budi manusia Jawa, yang merangkum kemauan, cita-cita, ide, maupun semangatnya dalam mencapai kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan lahir batin. Kebudayaan Jawa telah ada sejak zaman prahistori. Datangnya bangsa Hindu-Jawa dan dengan masuknya agama Islam dengan kebudayaannya, maka kebudayaan Jawa menjadi filsafat sinkretis yang menyatukan unsur-unsur pra-Hindu, Hindu-Jawa, dan Islam. Arif (2010:35) mengatakan filsafat menempatkan kebudayaan pada aras metafisis yang merujuk pada penempatan nilai sebagai aspek formal intrinsik.
Ciptoprawiro (1986: 11) berdasarkan definisi bahwa “filsafat diartikan suatu pencarian dengan kekuatan sendiri tentang hakikat segala wujud (fenomena), yang bersifat mendalam dan mendasar”, apa yang ada dalam banyak perenungan di Jawa yaitu suatu usaha untuk mengartikan hidup dengan segala pangejawantahannya, mansia dengan tujuan akhirnya, hubungan yang nampak dengan yang gaib, yang silih berganti dengan yang abadi, tempat manusia dalam alam semesta, adalah merupakan pemikiran filsafat. Memang dalam penelitian kesusasteraan Jawa belum jauh benar, namun sudah cukup jauh untuk menjadi dasar sebagai filsafat Jawa. Malahan tidak perlu mencari terlalu jauh dalam kesusasteraan Jawa untuk mendapatkan pemikiran filsafat Jawa, tetapi apa yang telah hidup di Jawa, tidak hanya yang hidup di kalangan para pengembang kebudayaan, melainkan di kalangan rakyat biasa, sudah cukup untuk meyakinkan tentang kecintaan mereka terhadap renungan filsafat. Ketenaran tokoh Wrekudara dalam mecari air hidup untuk memperoleh wirid ilmu sejati, merupakan suatu petunjuk betapa usaha ke arah pemikiran filsafat Jawa telah berakar dalam kehidupan orang Jawa.

Latar Belakang Permasalahan Filsafat Jawa



Hasil gambar untuk filsafat jawa
Pertanyaan yang menggelithik ketika kita mempelajari Filafat Jawa ini adalah adakah Filsafat Jawa itu? Mengapa ada pertanyaan itu, karena selama ini kita hanya mengenal bahwa pembicaraan filsafat selalu dibedakan Filsafat Barat dan Timur. Filsafat Barat mulai dari Yunani, Inggris, Jerman, Perancis, dan juga Amerika. Sementara Filsafat Timur menunjuk ke India dan Cina. Dalam konteks ini timbul pertanyaan berikutnya, yaitu apakah ada Filsafat Jawa? Di mana kedudukan Filsafat Jawa di antara Filsafat Barat dan Timur? Jika dilihat dari pembagian tersebut, karena wilayah geografis Pulau Jawa berada di belahan Timur, Filsafat Jawa merupakan bagian dari Filsafat Timur.
Untuk menjawab pertanyaan adakah Filsafat Jawa, kita dapat melihat historis orang Jawa yang telah tumbuh dan berkembang sejak jaman dulu, ketika orang Jawa menggunakan bahasa Jawa Kuna. Dalam zaman itu, tradisi sastra telah berkembang amat pesat. Kita telah mengenal pujangga Empu Kanwa yang mengarang Kakawin Arjuna Wiwaha, Empu Prapanca yang menulis Negara Kertagama, Empu Tantular yang menulis Kakawin Sutasoma, dan sebagainya. Dalam karya sastra Jawa Kuna itu di dalamnya terkandung berbagai kebijaksanaan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Jawa, dan di situlah sumber utama Filsafat Jawa. Demikian juga, dalam kesusasteraan baru, kita kenal Serat Centhini yang ditulis oleh Paku Buwono V pada abad delapan belas, Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, dan karya satra Jawa baru lainnya. Dalam berbagai karya sastra Jawa baru itu terkandung nilai-nilai kebijaksanaan hidup yang merupakan bagian dari Filsafat Jawa. Jadi, terhadap pertanyaan adakah Filsafat Jawa? Maka, jawabannya adalah ada.


Selanjutnya, jawaban lebih lanjut tentang keberadaan filsafat Jawa, Kusbandrijo (2007:12-13) menjelaskan filsafat India dan Cina mempengaruhi filsafat Jawa, namun sesudah Islam masuk, banyak konsep India dan Cina yang diubah sesuai ajaran Islam. Mirip dengan filsfat India, filsafat Jawa juga menekankan pentingnya kesempurnaan hidup. Manusia berfikir dan merenungi dirinya dalam ranka menemukan integritas dirinya dalam kaitannya dengan Tuhan. Dimensi ini adalah karakteristik yang dominan dan tidak dapat dilepaskan dengan kecenderungan hidup manusia Jawa. Pemikiran-pemikiran Jawa merupakan suatu usaha untuk mencapai ksempurnaan hidup.
Kusbandrijo (2007:13) lebih lanjut menjelaskan filsafat Barat dan filsafat Jawa memiliki tujuan yang sama, yaitu mengenal diri. Namun demikian, cara pencapaian dan pengembangannya berbeda. Di samping pandangan tentang hubungsan antara manusia dan alam berbeda, hubungan manusia dengan Tuhan juga berbeda. Bagi filsafat Yunani filsafat berarti cinta kearifan (the love of wisdom), bagi filsafat Jawa, pengetahuan (filsafat) senantiasa hanya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan. Bagi filsafat Jawa dapatlah dirumuskan filsafat berarti cinta kesempurnaan (the love ogf perfection). Dalam rumusan Ciptoprawiro (2007:14), dengan mengutib bahwa pengetahuan (filsafat) senantiasa hanya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan, dapatlah dirumuskan bahwa di Jawa filsafat berarti cinta kesempurnaan (the love of perfection).
Ciptoprawiro (1986:14) lebih lanjut menyatakan sebagai bukti bahwa filsafat Jawa ada, penelitian dalam kesusasteraan Jawa belumlah jauh benar, namun cukup jauh untuk menjadi dasar bahwa filsafat Jawa ada. Malahan kita tidak perlu mencari dalam kesusasteraan untuk memperoleh peikiran filsafat. Sekedar pengetahuan tentang apa yang hidup dalam bangsa Jawa, tidak hanya di antara mereka yang dianggap sebagai pengemban kebudayaan, melainkan bahkan di kalangan rakyat biasa, sudahlah cukup untuk meyakinkan tentang kecintaan mereka terhadap renungan filsafat. Ketenaran tokoh Werkudara, yang dalam mencari air kehidupan untuk memperoleh wirid dalam ilmu sejati, dapat dipakai sebagai petunjuk betapa pemikiran dalam fisalafat Jawa telah berakar dalam kehidupan orang Jawa.

Wednesday, 2 September 2015

Saudara halus dan Pengawal halus


Hasil gambar untuk lelaki blangkonan
Dizaman modern ini,selain ada banyak orang yang bertanya :

” Siapa Aku ini?” – “Who am I?”,

“ Mengapa Aku disini?’ – “ Why am I here?”

“ Dari mana Aku datang?’- “ Where do I come from?”.

Ada juga yang bertanya apakah sebenarnya atau adakah” saudara-saudara halus” dari seorang manusia. Anak muda sekarang menyebutnya antara lain dengan istilah soulmates, teman atau saudara jiwa. Soulmates yang  utama  adalah jiwa yang  amat dekat ikatannya seperti yang menjadi suami atau istri, saudara kandung pria dan wanita, anak atau orang tua ataupun sahabat dekat.

Soulmates yang menjadi teman-teman baik didalam kehidupan duniawi, ada juga kelompok soulmates yang adalah para individu yang sering saling berhubungan karena ada sebabnya/ kepentingannya. Misalnya antara murid dengan pengajarnya.

Di dunia yang banyak ditinggali manusia, didalam pergaulan ini selain ada soul/jiwa yang sudah dikenal sebelumnya dialam kelanggengan atau immortal life, banyak pula yang tidak dikenal. Ini sesuatu yang lumrah saja, karena didunia ini, kita juga tidak mungkin berhubungan dekat ataupun bahkan mengenal dari dekat dengan semua orang.


Saudara-saudara halus

Sejak kuno, spiritualitas Jawa mengakui bahwa setiap orang mempunyai saudara-saudara halus yang mendampinginya. Mereka tentu tidak kelihatan oleh mata biasa ,karena mereka tidak berbadan fisik. Mereka itu ada dan berbadan halus yang berujud  sinar.

Dalam pemahaman spiritualitas universal dinyatakan bahwa setiap manusia  selalu didampingi oleh spirit guide atau pengawal suksma, bisa satu pengawal bisa lebih. Para guides atau pengawal juga berasal dari dunia suksma.

Seperti kita telah fahami bahwa manusia sejati adalah suksma yang memakai pakaian badan halus dan badan fisik yang sesuai. Suksma atau jiwa hidup langgeng atau immortal, yang  rusak adalah raga. Bila raga rusak, maka suksma/jiwa kembali kealam asal atau dalam bahasa sehari-hari disebut meninggal dunia. Orang Jawa kuno bilang : Kembali kemula-mula, pulang keharibaan Gusti, Tuhan.

Manusia  hidup yang berujud bleger- raga eteris dan fisik, didalamnya berupa suksma, yang dalam spiritualitas sering dipanggil pribadi sejati atau Higher Self dan pada penampilan luarnya berujud manusia yang beraga.( Mengenai Pribadi Sejati atau Higher Self, ada sementara spiritualis muda kita, yang menyebutnya dengan “ Kembaran Saya”, mereka berdalih pada waktu ketemu dengan Pribadi Sejati, rupa dan bentuknya persis seperti dirinya).

Menurut kawruh Kejawen, pengetahuan spiritual Jawa yang merupakan satu kebenaran dan kenyataan, setiap manusia selalu didampingi oleh saudara-saudara halusnya. Dari begitu banyak bibit kehidupan berupa sperma sehat calon Bapak yang masuk dalam gua garba ibu, hanya satu yang menjadi janin dan ketika sudah 9/sembilan bulan dikandungan ibu, terlahir sebagai bayi.

Bisa juga dua atau lima , kalau terjadi bayi kembar. Jadi banyak bibit kehidupan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk terlahir sebagai bayi manusia.Sedangkan yang telah menjadi bayi , tumbuh menjadi manusia untuk menjalani kehidupan didunia ini. Oleh karena itu, kita yang  menjadi manusia , wajib mensyukuri hidup ini dan mengisi kehidupan didunia ini dengan benar, baik dan berguna bagi sesama dan jagat ini.

Manusia dalam kiprahnya menjalani kehidupan dibumi , selalu didampingi oleh saudara-saudara halusnya kapanpun dan dimanapun dia berada. Para saudara halus ini mendapatkan tugas dari Sang Pencipta Kehidupan, Gusti, Tuhan untuk membantu dan menjaga saudaranya yang pada saat ini menjadi manusia dibumi.


Siapa saja saudara halus itu?

Saudara halus – sedulur alus yang tidak berbadan fisik itu menurut kepercayaan tradisional Jawa  selalu membantu saudaranya yang manusia dengan jalan menyertai, melindungi, membantu supaya saudaranya yang manusia menjalani kehidupannya dengan selamat, sehat, sejahtera selama hidup dibumi ini. Tugas sedulur alus tersebut sesuai dengan paugeran – ketentuan dari Gusti.

Saudara halus itu jumlahnya banyak, mari kita coba mengenali mereka :

Mar dan Marti, biasa dipanggil Mar Marti.

Mereka adalah saudara manusia yang lebih tua. Mereka tidak ikut dilahirkan melalui gua garba ibu. Mar yang paling tua merefleksikan perjuangan ibu sewaktu melahirkan bayi. Dia adalah daya, kekuatan yang kuat, hebat untuk hidup dan melindungi hidup.

Marti merefleksikan perjuangan ibu setelah melahirkan. Perjuangannya berhasil, lega rasanya. Oleh karena itu Mar Marti tinggi pangkatnya, sebagai Raja dan Ratu. Secara mistis warnanya berupa cahaya putih bersih dan kuning muda jernih.

Mar Marti membantu manusia yang dikawalnya ,hanya untuk hal-hal yang penting, dalam keadaan yang benar-benar diperlukan. Karena derajat Mar Marti adalah bagai Raja dan Ratu, maka manusia yang meminta bantuan mereka adalah yang punya perbuatan, pikiran dan rasa yang jernih.  Menurut istilah Kejawen adalah manusia yang telah melakukan tapabrata terlebih dahulu, yang sudah melakukan laku spiritual yang sungguh-sungguh.


Sedulur papat kalimo pancer

Saudara empat yang kelima pancer, yaitu :
Kakang Kawah : Kakak Kawah, yang keluar dari rahim ibu, sebelum sibayi. Warnanya putih, tempatnya di Timur.
Adi Ari-ari : Adik ari-ari, yang keluar dari rahim ibu, sesudah si bayi. Warnanya kuning, tempatnya di Barat.
Getih : Darah yang keluar dari rahim ibu sewaktu melahirkan. Warnanya merah, tempatnya di Selatan.
Puser : Pusar, yang dipotong sesudah kelahiran bayi. Warnanya hitam, tempatnya di Utara.
Pancer : Pancer adalah bleger ,wujud badan jasmani yang ada ditengah keempat saudara yang lain yang tidak punya raga fisik.

Sedulur papat kalimo pancer juga disebut Keblat papat, kalimo tengah ,artinya : Kiblat empat, yang kelima ditengah.( Mengenai kiblat: Timur, Selatan, Barat, Utara dan Tengah, ini mengandung pemahaman tersendiri dalam spiritualitas Kejawen, yang akan diuraikan  dilain kesempatan).

Para saudara halus ini mempunyai tugas untuk membantu manusia didalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya ada saudara-saudara halus yang dipanggil sebagai :

Kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang ora metu saka marga ino.

Semua saudaraku, yang ada melalui rahim ibu dan yang tidak melalui rahim ibu.

Kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan.

Semua saudaraku yang  tidak kelihatan dan tidak terawat.

Kabeh kadang ingsun kang lahir bareng sadino sawengine karo aku.

Semua saudaraku yang lahir siang malam bersamaku.

Jadi, memang benar saudara halus manusia itu ada banyak, mereka juga sering disebut sedulur sinarawedi- saudara terdekat. Dari sudut kebatinan, ada yang menyebut  mereka  makdum sarpin.


Perlu dikenal

Para pinisepuh Kejawen mengajarkan supaya kita semua mengenal dan syukur kalau mau ngerteni – memahami saudara halus kita. Mereka itu selalu mengawal dan membantu kita, disadari atau tidak, karena mereka dapat tugas dari Gusti, Tuhan. Tentunya ,si manusia juga harus berbuat dan berkemauan yang baik.

Perlu diketahui bahwa para saudara halus tersebut merasa senang kalau kita mengetahui kehadiran dan keberadaan mereka, terlebih kalau kita memperhatikan mereka. Kalau mereka merasa dianggap dan diperhatikan tentu mereka akan lebih rajin dan giat membantu. Mereka senang bila setiap saat diajak berpartisipasi dalam setiap kegiatan kita, seperti : makan, minum, belajar, bekerja, menyopir, mandi dsb.

Contoh mengajak saudara halus kita, katakan dalam batin :

“ Semua saudara halusku ( secara lengkap adalah : Kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser, kadang ingsun papat kalimo pancer, kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang ora metu saka margo ino, kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan, kabeh kadang ingsun kang lahir bareng sadino sawengine karo aku), saya mau makan, bantulah saya – Aku arep mangan, ewang-ewangono. Artinya supaya kita dibantu bisa makan dengan selamat dan makanan itu juga baik untuk kita.

“ Semua saudara halusku, bantulah saya menyopir mobil ini atau naik motor ini supaya selamat dan lancar sampai ke kampus atau ke kantor”. Artinya supaya dibantu supaya tidak ada halangan maupun kecelakaan.
“ Semua saudara halusku, bantulah saya dalam bekerja, sehingga pekerjaan saya lancar dan benar”.


Perlindungan pada waktu tidur

Pada waktu tidur, kita tidak bilang supaya dibantu tidur. Nanti mereka semua tidur dan  tidur itu bukan kebutuhan mereka. Katakan dalam batin : “ Kabeh sedulur alusku, aku arep turu, reksanen aku sajerone turu, yen ana kang ngganggu utawa mbebayani tandangono utawa gugahen aku”.  Artinya :

“ Semua saudara halusku, saya mau tidur, lindungilah saya. Kalau ada yang mengganggu atau membahayakan, kamu atasi atau kamu bangunkan aku”.

Sambil merebahkan badan ditempat tidur, sebelum menutup mata, letakkan telapak tangan kanan diatas dada , menyentuh jantung, katakan dalam batin : “Saya juga hidup “–“ Aku iyo urip”.

Berdasarkan pengalaman, biasanya tidur nyenyak, selamat, bangun tidur sehat, cerah.


Akrab dengan saudara halus

Hubungan akrab dengan semua saudara halus bisa dilakukan  dengan biasa melakukan komunikasi. Seperti juga dalam pergaulan antar manusia, kalau sering terjadi komunikasi, tentulah hubungannya menjadi lebih terbiasa  dan bahkan menjadi akrab. Kalau sudah akrab, bisa terjadi hubungan yang saling membantu.

Jalinan komunikasi pertama adalah : Anda sering menyebut nama mereka secara lengkap, satu per satu. Ini anda lakukan karena anda perlu minta dibantu atau dilindungi. Dengan menyebut mereka dan minta bantuan  itu artinya anda mengakui keberadaan mereka dan bahwa mereka adalah saudara-saudara anda yang anda sayangi dan perlukan. Jadi menyebut mereka dan minta kerjasama mereka,  itu tidak merendahkan mereka maupun anda, itulah kenyataan yang digariskan Gusti, sesuai Kejawen. Ini adalah tindakan terhormat karena anda dan saudara-saudara anda adalah dari satu sumber yang sama yaitu atas karsa Gusti.

Seandainya anda, tidak pernah menyapa mereka, maka sebagai sesama makhluk mereka juga merasa bahwa keberadaan mereka tidak anda perhatikan dan perlukan. Mereka akan tidak antusias mendampingi, melindungi dan membantu anda, meskipun itu tugas alami mereka atas kehendak Gusti. Maka jangan heran kalau kita lihat banyak teman, kenalan kita yang hidupnya kesandhung-sandhung – banyak menghadapi kendala, sial, nasib jelek dan sebagainya. Mungkin saja mereka tidak dibantu secara optimal oleh saudara-saudara halusnya sendiri, selain ada masalah karma.

Hendaknya diketahui bahwa para saudara halus itu berada didunia dengan tanpa raga fisik, itu adalah juga latihan bagi mereka, bila nanti satu ketika ,mereka diperbolehkan menjalani kehidupan sebagai manusia oleh Gusti, Tuhan. Bila mereka bisa menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, itu harapan lebih besar dan lebih cepat untuk muncul dibumi sebagai manusia.

Mereka juga senang kalau manusia yang dikawal sukses, maju dan baik kehidupannya. Sebaliknya ,bila yang dikawal tidak baik, tidak memahami mereka, mereka juga punya rasa bosan. Lalu timbul perasaannya :” Buat apa mendampingi lama-lama manusia seperti ini. Lebih baik dia cepat dipanggil kembali kealam asal yaitu alam suksma dan kamipun juga bebas tugas dan juga kembali kealam suksma. Disana kami menanti anugerah Gusti untuk diciptakan sebagai manusia dan boleh hidup dibumi sesuai ketentuan”.

Komunikasi dan ajakan kepada saudara halus yang utama adalah ketika kita manembah kepada Gusti. Kita ajak mereka, disebut namanya satu persatu untuk membantu dan melindungi kita dan penyembahan kita, semadi kita, meditasi kita diperkenankan oleh Gusti.

Pendekatan kita yang kedua adalah ketika kita melakukan laku spiritual untuk memperteguh iman kita untuk percaya, berbakti dan mendekatkan diri kepada Gusti. Ajaklah saudara halus untuk membantu dan melindungi.

Pendekatan ketiga supaya akrab dengan saudara halus adalah supaya mereka membantu kita dalam menjalankan tugas kehidupan yang baik dan benar supaya berhasil dan tidak terkena halangan atau goda yang negatif.
Pendekatan yang lain ketika kita mengajak saudara halus kita membantu kita supaya kita berhasil mencapai cita-cita dan keinginan yang baik.

Menurut  pengalaman para pinisepuh dan yang sudah akrab dengan saudara-saudara halus, sebenarnya mereka itu masing-masing punya kekhususan a.l .:

Mar Marti, hanya membantu dalam hal yang sungguh perlu dalam kehidupan seseorang. Kakang Kawah dan Adi Ari-ari adalah yang banyak membantu dalam memenuhi kehendak yang baik. Kakang Kawah selalu membantu sebaik-baiknya terjadinya satu cita-cita/ keinginan, sedangkan Adi Ari-ari selalu mendukung dan menyenangkan. Getih membantu menggerakkan gairah dan semangat, Puser memperhatikan kemauan dan kebutuhan duniawi.

Sedangkan bagi saudara-saudara spiritualis yang sudah serasi hubungannya dengan Pribadi Sejati atau Higher Self, Pribadi Sejati bukan untuk permintaan apapun ,apalagi  yang bersifat keduniawian,tetapi untuk sumarah – berpasrah total kepada Gusti.Pada tataran ini seorang manusia sejati sebenarnya telah memasuki tataran kesadaran spiritual yang  jarang digapai oleh orang biasa.

Mengenai kesadaran- consiousness yang berupa bawah sadar, kesadaran normal dan kesadaran tinggi, akan kita bicarakan kemudian.


JagadKejawen,

Suryo S. Negor

PENGERTIAN DAN GUNA HUKUM ADAT


Hasil gambar untuk orang cantik budaya
Apabila kita mempelajari hukum adat maka kita akan mudah memahami hukum Indonesia (positif), karena hukum adat dibentuk menurut kebiasaan masyarakat Indonesia yang memiliki sanksi dan diselaraskan dengan hukum nasional. Hukum di Indonesia salah satunya bersumber dari costum, di mana sumber tersebut mengikuti perkembangan zaman dan harus disesuaikan dengan azas–azas hukum yang berlaku dan tidak boleh bertentangan dengan ideologi bangsa. Suatu peraturan yang telah diundangkan harus disepakati dan dipatuhi bersama tanpa pengecualian. Keragaman budaya harus menyadarkan kita bahwa sangat penting memahami latar belakang sosial budaya yang berasal dari masyarakat lain.
                  Manfaat dari mempelajari hukum Adat dapat dilihat dari sisi teoritis dan dari sisi Praktis. Manfaat dari sisi teoritis ialah ketika hukum Adat dilihat sebagai ilmu pengetahuan. Manfaat hukum Adat sebagai ilmu adalah berkaitan dengan pendidikan dan penelitian. Manfaat hukum Adat sebagai ilmu pengetahuan, untuk memuaskan keingintahuan mengenai hukum Adat itu apa, bagaimana terbentuknya, untuk siapa hukum Adat itu, dan bagaimana perkembangannya. Hukum Adat mengenai manfaatnya dari sisi teoritis yaitu hanyalah sebagai ilmu yang dapat dipelajari saja, dan belum ada aplikasinya kepada masyarakat. Kemudian, dari sisi praktiknya, kemanfaatan dari mempelajari hukum Adat yaitu ketika hukum Adat itu di menyelesaikan dan menjelaskan masalah – masalah yang terjadi dalam masyarakat, sehingga tujuan dari ilmu untuk masyarakt dapat tercapai.
Manfaat hukum Adat dari sisi praktis ketika ditinjau dari praktek kehidupan berbangsa dan bernegara, maka hukum Adat dapat memupuk cirri khas, atau keperibadian bangsa yang memberikan identitas yang berbeda dengan bangsa atau Negara lainnya, karena hukum Adat adalam penserminan dari keperibadian bangsa.
Hukum Adat kemudian apabila dikaitkan dengan penyelengaraan Negara, maka hukum Adat dapat menjadi sumber bahan hukum nasional dan sumber hukum bagi hakim ketika hakim mengambil keputusan dalam peradilan ( UU No. 4 tahun 2004, ps. 16 ayat 1 dan ayat 28). Hal itu disebabkan suatu keputusan, atau kaedah hukum positif yang berlaku di suatu Negara, khusunya Indonesia, haruslah bersumber dan mencerminkan jiwa, semangat dan kehendak dari masyarakat Indonesia, agar setiap keputusan atau hukum yang dibuat, dapat diterima dan diterapkan dalam masyarakat Indonesia. Untuk itulah, perlunya mempelajari hukum Adat.